Cara Menstimulasi Kecerdasan Emosional Anak Sejak Dini

Kebanyakan orang tua berpikir tidak perlu mengenalkan tentang emosi kepada balitanya, karena menganggap ini adalah konsep yang sangat abstrak. Padahal sebenarnya, saat balita Anda sudah bisa berbicara dengan lancar, maka dia sudah bisa mengerti tentang emosinya. Justru yang sering terjadi, anak tidak bisa memahami emosi yang dia rasakan, hingga akhirnya menjadi tantrum, gampang menangis atau marah.

Kecerdasan Emosi Akan Meningkatkan Kualitas Hidup Anak di Masa Depan

Ikatan emosional anak akan terbentuk erat ketika ia percaya pada lingkungannya. Rasa percaya inilah yang membuat anak dapat memahami dan belajar tentang emosi dengan lebih mudah. Inilah yang kemudian akan membuat anak lebih percaya diri untuk mengekspresikan perasaannya dan cepat berempati pada teman-teman sekelompoknya. Menurut Direktur Research and Education for the Glendon Association, Lisa Firestone, PhD.

Orang tua, seringkali lupa bahwa di masa balita dengan perkembangan otak yang begitu pesat, anak mengamati, beradaptasi, beraksi, dan menghasilkan ide justru berdasarkan pengalaman emosinya. lanjut Firestone, “Saya jadi bertanya-tanya, untuk apa anak-anak diajari bicara, diajari begitu banyak mata pelajaran di sekolah, dan dibekali dengan keahlian dasar tapi kemudian lupa untuk dimatangkan kecerdasan emosionalnya. Padahal kemampuan inilah yang akan secara dramatis meningkatkan kualitas hidup anak di masa depan,” tulisanya yang dilansir dari Psychology Today.

Kecerdasan emosional akan mengajarkan anak tentang bagaimana mengerti emosi yang dirasakan, apa yang membuat mereka merasakan hal itu dan bagaimana menghadapinya. Ini sebenarnya adalah kemampuan esensial untuk mencapai kesuksesan dalam hidup.

Beragam penelitian menunjukkan emotional intelligence atau EQ bisa memprediksi 54 persen keberhasilan hidup seseorang di masa depan. Anak dengan tingkat EQ yang baik ternyata memiliki nilai-nilai yang bagus selama di sekolah dan mayoritas membuat keputusan-keputusan yang tepat dalam hidupnya.

Lantas, Bagaimana Caranya Mematangkan Kecerdasan Emosional Anak?


Adalah Dr. Marc Brackett yang membentuk Center for Emotional Intelligence di Yale. Ia bersama timnya kemudian menciptakan program RULER untuk diterapkan di sekolah agar anak-anak memiliki kematangan emosional yang lebih baik. RULER sendiri adalah singkatan dari Recognizing emotions in self and others atau mengenali emosi dalam diri sendiri dan pada orang lain.

Jadi, program yang mereka buat akan menjadikan anak-anak mampu mengetahui apa penyebab dan konsekuensi dari sebuah emosi. Mereka juga menjadi lebih bisa menamai emosi serta meresponnya dengan tepat. Dan yang terpenting, anak-anak jadi bisa meregulasi emosinya sendiri.

Hasilnya, anak-anak yang mengikuti program ternyata tidak hanya memiliki kecerdasan secara emosional, tetapi juga menajamkan kemampuan sosial, kepemimpinan, dan mendapatkan nilai akademis yang bagus. Secara bersamaan, anak juga menjadi jarang depresi atau cemas berlebihan, dan aksi perundungan atau bullying antar siswa berkurang secara signifikan.

Adapun komponen dari RULER untuk membentuk kecerdasan emosional anak adalah:

-Kesadaran diri atau self awareness adalah kemampuan untuk mengidentifikasi emosi yang ada dalam dirinya.
-Regulasi diri atau self regulation adalah kemampuan untuk mengendalikan diri untuk bereaksi dengan tepat terhadap emosi yang muncul.
-Motivasi diri atau internal motivation adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang terpenting dalam hidup.
-Empati adalah kemampuan untuk memahami emosi orang lain.
-Kemampuan sosial atau social skill adalah mampu membangun koneksi sosial.

Tetapi kecerdasan emosional anak tidak akan terbentuk optimal, jika orang tua tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri. Itulah mengapa Brackett sangat menekankan kalau kesadaran untuk memiliki kecerdasan emosi harus dimulai dari orang tua.

Kabar baiknya, kecerdasan emosional bisa diajarkan pada usia berapa saja, artinya tidak ada kata terlambat bagi orang tua untuk mulai belajar tentang hal ini. Sambung Brackett.

Sedangkan, langkah awal untuk memulainya adalah mampu untuk fokus pada momen saat ini sambil menerima, serta mengenali emosi serta perasaan fisik yang muncul, menurut Firestone.

Konsep ini dalam dunia psikologi disebut sebagai mindfulness atau kesadaran penuh. Penelitian menunjukkan, melatih untuk bisa sadar penuh secara emosi, akan menyelamatkan Anda dari stres dan depresi. Ajaibnya, manfaat yang sama juga terjadi pada anak-anak. 

Lalu, bagaimanakah cara paling mudah melatih mindfulness? “Banyak penelitian mengungkapkan, latihan yoga sangat bisa melatih mindfulness seseorang. Dan pada anak usia sekolah, yoga juga terbukti membuat mereka mampu meregulasi emosinya sendiri.”

Semoga bermanfaat ya sahabat bunda.

Malang, 22 Oktober 2020

#ODOP #OneDayOnePost #OdopDay46 #Odop2020 #OdopBatch8

Diterbitkan oleh Cerita Bunda Triple A

Assalamualaikum ;) Selamat datang di Blog pribadi Cerita Bunda 3Ple A(Bundanya Asyraf,Ahsan,Aisyah). Selain menulis, saya adalah ibu dari Dua putra dan Satu putri yang suka sekali mengabadikan moment sehari-hari Anak-anak. Selain itu saya juga suka sekali kulineran. Blog yang masih baru saya buat ini, semoga ada secuil manfaat untuk pembaca. Yuk berbagi cerita dan pengalaman seru lewat blog ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: