6 Tips Agar Anak Tak Alami Speech Delay

”Bayi usia 4-6 bulan sudah mulai mengeluarkan suara-suara, meskipun belum jelas,” – Mellisa Essenburg, MS, CC, SLP, speech pathologist dari San Diego.

Memiliki anak dengan tumbuh kembang yang sehat dan cerdas adalah dambaan semua orang tua. Komunikasi adalah salah satu aspek kecerdasan yang wajib dimiliki oleh setiap anak. Dengan berkomunikasi inilah anak dapat memperluas kosa kata juga mengembangkan daya penerimaan dan daya ingatnya. 

Sebagai orangtua, khususnya seorang ibu pasti akan merasa khawatiran jika si Kecil yang tercinta mengalami keterlambatan dalam hal berkomunikasi yaitu berbicara. Menurut pakar, ada perbedaan yang cukup signifikan antara anak yang memang pendiam atau justru mengalami keterlambatan bicara (speech delay).

❣Bagaimana cara membedakannya?

-Jika anak pendiam, biasanya ia mampu mengutarakan keinginan, dan tidak memiliki keterlambatan dalam memperoleh kosakata, lebih cepat saat memahami perintah, dan berkembang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan bahasa bicaranya.
-Sedangkan anak dengan gangguan bicara cenderung terlambat memperoleh kosakata. Artinya kosakata yang dilontarkan tidak sesuai dengan usianya, serta tidak mampu diajak berkomunikasi, baik secara dua arah maupun tiga arah.
-Anak seperti ini juga tidak paham perintah, tidak mampu mengutarakan keinginannya dengan tepat, sehingga mudah tantrum atau sering menangis tidak jelas.
-Gejala lain yang menonjol pada anak dengan gangguan bicara adalah mereka sering asyik sendiri ‘ sibuk sendiri ‘, dan seringnya enggan berinteraksi dengan orang-orang dan lingkungan di sekitarnya.

Speech Delay kapan bisa dideteksi?

Karena standar rata anak usia 12 bulan menurut beberapa ahli paling tidak anak-anak sudah memiliki 1-20 kata yang harus dikuasainya, dan usia 18 bulan anak-anak harus memiliki 20 sampai 100 kata. Jadi, Bunda harus waspada jika dalam usia tersebut ada tanda-tanda keterlambatan berbicara kepada anak bunda.

Meski begitu, sebelum kita menyimpulkan jika anak kita mengalami speech delay sebaiknya kita sebagai orang tua disarankan untuk paham tentang milestone tumbuh kembang anak, termasuk dalam perkembangan bahasanya. Jadi begitu ada yang tidak/kurang sesuai, kita bisa langsung tahu dan mengamati lebih lanjut untuk mengambil tindakan yang diperlukan.

Berikut ini adalah tahapan usia anak berbicara hingga bisa mengucapkan kalimat yang mempunyai arti dan akan bisa kita pahami :

– Usia 0-3 bulan: si kecil mungkin akan mengeluarkan suara seperti menangis dan tertawa
– Usia 4-6 bulan: si kecil akan mengeluarkan suara satu sampai dua kata dengan pengulangan, seperti ma…mama..pa..papa…
– Usia 6-9 bulan: si kecil sudah mulai bisa menggabungkan beberapa kata, misal: “Ayah Kerja”, “Aku main” dan sebagainya.
– Usia 10-12 bulan: si kecil akan mengalami peningkatan kemampuan berbicara menjadi lebih aktif dan sering menirukan kata-kata yang bunda ucapkan meskipun belum bisa sama persis.
– Usia 1-4 tahun: Buah hati bunda akan tumbuh menjadi anak yang sudah lebih pandai meniru ucapan dan lebih baik lagi dalam mengeluarkan suara sehingga ibu bisa lebih mudah memahami maksudnya.

Orangtua dan lingkungan memiliki peranan sangat penting dalam membentuk kelancaran si kecil dalam berinteraksi dan berbicara.

Untuk bunda yang masih bingung bagaimana caranya, Yuk Lakukan 6 tips ini untuk menstimulasi Agar Anak anda lancar berbicara sejak dini !

Disclaimer: Tips ini saya tuliskan berdasarkan pengalaman yang saya lakukan bersama kedua anak saya yang Alhamdulillah dengan izin Allah mereka sudah lancar berbicara di usia kurang dari dua tahun. Alhamdulillahi wa masya’allahi fa’ala.

1. Sering ajak anak berbicara

Selain sejak di dalam kandungan, setelah lahir saya paling seneng ngajak bayi saya berbicara. Meskipun dia gak menjawab, tapi sebenarnya sel-sel syaraf otaknya telah menangkap sinyal tersebut dengan baik dan menyimpannya dalam memori.

Semakin sering kita mengajaknya bicara, maka ia akan semakin mengingat banyak kosakata Jadi jangan pernah lelah berbicara dengan bayi kita ya bund.
Seingat saya, Asyraf waktu itu mulai bisa bicara satu, dua patah kata yang jelas bisa saya artikan dan bisa saya pahami saat usianya masuk di 10 bulan.

Saat masuk di usia 12 bulan, Asyraf sudah bisa nyambungin kata sampai 5 kata dan dia Juga selalu suka mengulangi kembali kata-kata yang sering
di ucapkan oleh saya, ayahnya, neneknya ataupun orang-orang di sekitar. Masuk di fase ini saya dan orang-orang terdekat dengan Asyraf harus benar-benar menjaga kosa kata saat berbicara. Pun yang terjadi sama si Ahsan, putra kedua saya. Di usianya yang sekarang masuk 26Bulan, dia sudah banyak sekali pertanyaan dan suka sering berbicara selayaknya anak-anak.

2. Menyanyikan lagu khusus anak-anak

Video Ahsan saat Bernyanyi

Menyanyi ini adalah salah satu yang sering saya lakukan. Terkadang nyanyian itu lebih cepat di hafal oleh anak-anak dan tak jarang juga lirik lagunya saya ganti sesuai keinginan saya pribadi. Hehhehe

Selai menyanyi, Anak-anak saya juga sering mendengarkan lagu anak yang bernuansa edukasi islami dan Alhamdulillah atas izin Allah di usia mereka masuk di 19-20 bulan sudah hafal beberapa Asmaul Husna dan lagu-lagu islami lain.

3. Ajak Anak Untuk Bermain

Bagi saya, bermain adalah salah satu hal yang paling mudah dikerjakan untuk bisa mengajak anak-anak untuk berinteraksi. Dengan bermain ini, akan merangsang otak anak menjadi lebih aktif, yang sering saya lakukan adalah mengajaknya bermain dengan gambar di flash card seperti main tebak gambar hewan, tebak warna, tebak nama buah dan tebak huruf juga hijaiyah.

4. No Gadget

Ini adalah termasuk trik terpenting dalam menstimulasi perkembangan bicara dan interaksi anak pada sekitarnya. Saya berusaha banget untuk menjauhkan Hp dari anak-anak, meskipun terkadang kecolongan juga saat pegang hp dan terkadang juga nyalain hp untuk dengerin lagu-lagu di YouTube.

Tetapi tetep anak-anak sebisanya gak sampai melihat apalagi memegang Hp tersebut. Kenapa saya sangat batasi? Karena dulu, pengalaman teman saya yang anaknya kecanduan nonton youtube dan karena ini, anaknya hanya bisa fokus sama konten YouTube tersebut, yang terjadi adalah anaknya sering gak fokus dan mengabaikan orang-orang sekitarnya.

5. Ajari cara berbicara dengan jelas dan perlahan.

Jangan bicara terlalu cepat dan keras di depan anak ya bun. Meski kadang sayapun juga bicara keras-keras ke anak, tapi sebisanya ajak anak-anak bicara dengan lembut dan perlahan. Kemudian sebisanya ajari dengan kata yang jelas dan sebenarnya, saya sebisanya menghindari untuk mengucapkan kata-kata yang kurang jelas, misalkan si anak berkata idur yang dia maksud adalah tidur, sebisanya saya ulangi dan tegaskan kalau namanya itu adalah Tidur, tii… duuur.

Dengan begitu anak-anak akan perlahan memperbaiki dan bisa lebih jelas mengutarakan apa yang dia maksudkan.

6.Sering ajak anak untuk bercerita dan tanggapi apa yang dibicarakan oleh si anak.

Video Asyraf saat bercerita

Selain suka bercerita, saya juga sering sekali membacakan buku cerita. Saat mau tidur siang ataupun tidur malam, terkadang anak-anak akan minta dibacakan buku cerita dan cara ini menurut saya lebih cepat dan efektif untuk melatih dan juga mengajari anak untuk pembendaharaan kata dan akhirnya bisa bercerita dengan gaya bercerita ya sendiri. Saat mereka sudah mampu menceritakan kembali apa yang saya ceritakan, sebisanya saya tanggapi dan respon apa yang mereka ceritakan dan jika ada pengucapan yang salah saya akan segera memperbaiki dengan mengucapkan ulang kata tersebut.

Bunda, karena apapun yang kita katakan, apapun yang kita sampaikan kepada anak-anak kita, itu semua akan tersimpan dalam memorinya dan suatu saat anak kita akan meniru apa yang sudah dia dengarkan, baik yang diajarkan orang tuanya, ataupun oleh orang-orang di sekitarnya.

Satu hal yang paling penting adalah mengajarkan anak kita berbicara dengan kata-kata yang positif, Jangan pernah menyerah dan bosan untuk selalu mengajarkan sesuatu hal yang baik untuk anak anak kita. Karna Orangtua terlebih Ibu, adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Sekian sharing tips dari pengalaman pribadi saya tentang cara menstimulasi untuk anak-anak agar tidak mengalami speech delay. tulisan ini tidak bermaksud untuk menggurui ya bunda. Saya hanya berbagi sesuai pengalaman saya sebagai seorang ibu. Tidak ada maksud dan merasa saya adalah ibu yang paling hebat, dan saya hanya berbagi tentang apa yang sudah saya alami.

Semoga bermanfaat 😉

Dari saya, Ibu pembelajar
Malang, 29 September 2020

#ODOP
#OneDayOnePost
#OdopBatch8
#TantanganPekan4

Terimakasih Untuk Hari Ini

🌻Untukmu yang sudah berjuang hari ini🌻

Terima kasih untuk semua kisah kehidupan ini
Terima kasih atas semua canda tawa, suka duka dan luka sampai hari ini,
Bukan waktu yang singkat untuk melukiskan kenangan
Kenangan indah kita bersama

Terima kasih untuk perjalanan hidup ini Ada harapan, ada angan, ada pula cita2,
Jadikan kami insan pilihanmu,
Jadikan kami insan yg lebih baik

Jadikan kami manusia yang lebih bermanfaat Bagi kehidupan didunia maupun di akhirat..

Semoga Allah mengampuni segala dosa kitaAllah mengangkat derajat kita

Allah adalah sebaik-baiknya yang patut kita sembah Jauhi larangannya, jalankan segala perintah dan sunnahnya.

#ODOP

#OneDayOnePost #ODOPDAY23

Aku, Penentu Bahagiaku !

Karena, Bahagia itu adalah sebuah pilihan

Memang benar, jika kiranya kita tidak bisa benar-benar menutup kedua telinga kita dari perkataan orang lain yang mungkin menyakitkan, karena Allah menciptakan sebuah indra salah satunya adalah sebagai perasa.

Setiap anggota tubuh yang kita miliki ada koneksinya tersendiri. Apa yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, di tangkap oleh otak dan kemudian dikelola oleh semuanya sehingga kemudian, terciptalah sebuah perintah atau instruksi untuk kita.

Dan secara langsung, banyak diantara kita, atau bahkan diri saya sendiri yang dengan sengaja ikut campur dan mencampuri tentang apa yang sebenarnya tidak benar-benar kita ketahui, sering juga kita selalu minta dimengerti, minta dipahami tetapi sedikitpun tidak mau berhati-hati sedang mengkritisi atau mengkomentari.

Jadi, tidak heran apa yang dilihat oleh mata, di dengar oleh telinga tapi yang malah terusik adalah hati. Padahal, saat kita sudah berusaha tak peduli, tapi sedikit banyaknya tetap akan terekam oleh diri sendiri, terutama hati.

Benar, memang kita tak akan pernah bisa untuk menutup telinga dari seseorang yang akan berbicara, namun sebenarnya kita punya pilihan, Kita akan sengsara dan sakit karena omongan mereka atau kita akan menjadi seorang yang bahagia dengan cara yang kita bisa.

Karena sebenarnya, kita bukan manusia yang sakti mandraguna yang akan selalu dengan sekejap mengabulkan pinta. Yang kita bisa adalah membuang sampah yang tak layak untuk di simpan, atau sampah-sampah itu bisa di daur ulang dengan menjadikan sampah itu menjadi sesuatu yang lebih berguna.

Pun sama dengan apa yang kita ambil dari orang lain, jika ada hal yang bagi kita tak penting, maka singkirkan, pun jika kiranya ada yang bisa disaring ya gunakan untuk menjadi pembelajaran. Karena yang kita butuhkan adalah bahagia kita, bukan bahagianya Mereka.

Malang, 27 September 2020 / 00.00

#ODOP
#ODOPDAY21
#ONEDAYONEPOST

Puisi Untuk Hatiku


Hati, terima kasih sudah berusaha sabar untuk hari ini
Terima kasih karena kamu, amarah ini seketika terhenti
Nasehatmu, agar aku jangan kecewa yang berlebihan
Karena kamu (Hatiku) perlu bahagia

Maafkan aku, karena mungkin aku terus saja menyiksamu
Dengan membiarkan luka ini terus bersemayam bersamamu
Hati, maafkanlah aku
Dan aku janji, akan mengantarkanmu kepada Rabb mu

Aku janji, akan membawamu pada sholat yang lebih khusyu
Dan nanti, aku juga akan membawamu pada mejelis ilmu
Aku sadar, apa yang telah ku lakukan padamu
Aku sadar, karena perlakuanku kamu sering merasa gersang

Ya, Kamu selalu berpesan
Atas apa yang aku khawatirkan
Suatu nanti akan berubah
Berubah menjadi hal yang sangat Aku syukuri kemudian

Hati, terima kasih karena sudah mampu menguatkan
Dan aku akan menjamin untuk kamu agar terus bahagia.

Malang, 27 September 2020 / 20.55


#ODOP
#ODOPDAY21
#ONEDAYONEPOST

Bersahabat Dengan Suami

Karena, kehidupan antara suami dan istri adalah selayaknya kehidupan dua orang sahabat.

Setelah menikah, suami sudah tentu menjadi Qawwam / Imam untuk istrinya. Tetapi, meskipun menjadi seorang pemimpin, bukan berarti seorang sumi berlagak menjadi Raja dan si istrinya menjadi budak suaminya, atau si Suami menjadi majikan, dan istrinya menjadi pembantu. Imam yang di maksud disini bukan seperti itu pun bukan imam yang di maksudkan di dalam Agama Islam.

Imam adalah yang memberikan sandaran. Jadi, seorang suami adalah sandaran hati bagi istrinya. Oleh karena itu, suami harus siap menampung apapun keluh kesah istrinya dan sudah sepatutnya suami bisa menjadi pendengar yang baik bagi istrinya tersebut.

Menjadi pemimpin itu juga berarti, suami harus bisa membimbing & menuntun istrinya. Dengan bekerja di luar rumah mencari nafkah untuk memenuhi apa yang menjadi nafkah istrinya, seperti makanan, pakaian dan tempat tinggalnya.

Sedangkan Istri adalah ibu, tugasnya tak hanya menjadi pengurus rumah. Seorang suami, walaupun capek bekerja, saat dirumah dan melihat istri memerlukan bantuan, seharusnya tanpa diminta, suami akan dengan sigap membantunya. Berlagu pula sebaliknya.

Seperti yang di contohkan oleh Rasulullah, beliau sering membantu istrinya, melakukan hal kecil seperti mencuci piring, menjahit baju, mencuci pakaian kotor nabi melakukannya sendiri. Begitu juga membuat minuman, Nabi membuat sendiri. Itu yang di contohkan nabi. Jika saat di rumah tidak ada makanan, dengan segera Nabi berpuasa. Namun, Jika di temui ada makanan, dan kebetulan rasa masakannya kurang pas,  Nabi tidak pernah mengeluh apalagi mencaci masakan istrinya tersebut.

Itulah salah satu cara Nabi kita menjaga perasaan si istri. Cara Nabi menjadi sahabat bagi istrinya dan cara Nabi menjadi seorang Qawwam.

Ketika di rumah, Nabi juga bergurau dengan sang istri. Selalu membuat istrinya tersenyum kemudian tertawa. Terkadang,  Nabi menggoda dan merayunya. Tapi, meskipun begitu, bukan berarti di rumah mulia Rasulullah dan istrinya tidak pernah ada masalah.

Di kisahkan, di suatu waktu. Aisyah sedang ada masalah dengan Nabi, Nabi kemudian mengajukan beberapa nama untuk menjadi penegah antara Nabi dan Aisyah, Namun, Aisyah menolak, sampai akhirnya disetujuilah seseorang yang menjadi penengah antaranya . Beliau adalah Abu Bakar, seorang ayahanda Aisyah. Saat tahu masalahnya, bukan membela Aisyah, Abu Bakar justru memarahinya, putrinya tersebut dipukul hingga hidungnya berdarah. Saat itu, Nabi dengan penuh kasih sayang mengusap hidung Aisyah yang berdarah, membersihkannya dengan air dan kain. Nabi memberi usapan yang penuh kasih sayang dan penuh dengan rasa cinta.

Nabi bersabda “Lelaki terbaik, adalah lelaki yang paling baik kepada istrinya. Dan akulah lelaki yang paling baik kepada istriku”.


#ODOP
#ODOPDAY20
#ONEDAYONEPOST

Bahasa Cinta

“Salah satu yang dibutuhkan oleh jiwa anak-anak di usia 2-7Tahun adalah rasa cinta”.

Ini adalah salah satu kutipan yang mungkin sudah banyak orang mendengar bahkan mengenalinya. Kenapa 2-7Tahun? Karena anak-anak dalam usia ini hanya ingin selalu merasa di cintai dan di senangkan perasaannya. Lantas, apa yang terjadi jika Rasa itu tidak diberikan? Yang akan terjadi adalah, timbulnya kegoncangan di dalam jiwanya yang akan mengakibatkan kesulitan bagi kita untuk mengontrol dan menyikapi sikap-sikapnya. (Materi salah satu kuliah whatsapp parenting ala Rasullullah)


Itulah kenapa tak jarang kita merasa tak mampu dan kesulitan saat mengarahkan anak-anak kita di usianya ini? Sekarang, coba amati kembali, cek dan periksa lagi kebutuhan jiwa mereka. Apakah kita sudah mencintainya setulus hati kita?


Kesulitan yang terjadi tadi, ketika kita merasa anak kita sulit untuk diarahkan, penyebabnya adalah karena memang kebutuhan jiwanya belum benar-benar kita penuhi, cintai, cintai, cintai, ini bisa jadi sebuah kunci.


Padahal yang kita rasa, sebagai orangtua sudah senormalnya kita ini pasti mencintai anak-anak kita, lantas kenapa rasa cinta kita tersebut tak di rasakan oleh anak-anak kita?

Contoh kecil seperti yang saya alami tadi sore, menjelang sholat maghrib. Saat saya mencintai anak saya, saya ingin menjadikan Asyraf, anak pertama saya menjadi anak yang Sholih, saya cinta kepada anak saya untuk itu saya melarangnya untuk tetap bermain menjelang maghrib dan menyuruhya segera berangkat ke mushola.

Tapi, karena cara saya salah, dan saya teriak-teriak plus marah-marah, maka yang terjadi adalah, Asyraf menangis karena merasa saya “Memaksa” untuk ke mushola dan akhirnya rasa cinta saya tidak bisa tertangkap oleh Asyraf.


Nahhh.. Yuk, lebih bisa membahasakan cinta kita, lebih semangat lagi mengisi kebutuhan jiwa anak-anak kita. Karena, bisa jadi anak kita tidak bisa benar-benar menangkap rasa cinta itu. Kita cinta anak kita, tapi mungkin cara kita menyampaikannya kurang tepat sehingga rasa itu tak tertangkap oleh anak kita.

#ODOP
#ODOPDAY19
#ONEDAYONEPOST

Yuk, Bersyukur !

 “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Q.S. Ibrahim : 7)

Alhamdulillah 27Tahun, sudah di amanahi tiga anak untuk di didik dan di bersamai agar tumbuh menjadi hamba Allah yang bertakwa. InsyaAllah

Alhamdulillah Allah memberi kesempatan  hamil satu-satunya anak perempuan dengan segala kenikmatannya. Merasakan saat janin calon adiknya bergerak, kedua kakaknya antusias untuk memegang. Bahagia sudah pasti…..

Alhamdulillah dikasih kesempatan melahirkan (kembali) dengan perjuangan yang sampai saat ini ku syukuri. Syukur untuk mendekap, memeluk, mengecup serta selalu membersamai mereka setiap hari.

Alhamdulillah ada yang selalu membantu buang Pampers sekali pakainya si adik bayi, bantu ngambilin pakaian, yang itu menjadi tanda bahwa mas masnya sayang adek bayi meskipun adeknya harus terbangun lagi saat baru terlelap.

Alhamdulillah ya Allah, setiap hari rumah penuh dengan mainan yang berserakan, selalu heboh dengan suara-suara yg membuat adik bayinya kaget saat dia tengah terlelap. Ku syukuri karena itu adalah tanda mas-masnya sudah bisa mandiri beraktivitas dan bermain saat Bundanya harus menyusui.

Bersyukur atas nikmat ini ya Allah. Sekarang, masih sering sekali, bahkan setiap hari anal-anak bergantian untuk berulah demgan ekspresinya masong-masing.

Ya Robb, sungguh nikmat-Mu jauh lebih banyak.
Alhamdulillah.. Alhamdulilah ala kulli hal.

Malang, 24 September 2020/22.38 Wib
#ODOP
#ODOPDAY18
#ONEDAYONEPOST

Buanglah Kerikilnya, Agar Hidup Kita Tak Berat !

Bukankah memaafkan itu mudah !

Beberapa hari kemarin, salah satu bahasan di kuliah Whatsapp yang saya ikuti membahas tentang Inner child, Adalah sebuah fase yang mungkin sudah sangat sering kita dengar. Ya, Luka di masa lalu, yang entah kenapa masih saja ada bahkan mengendap dalam hati juga fikiran kita, dan tanpa sadar, selanjutnya akan berpengaruh dengan perilaku yang tidak baik di dalam diri kita.

Saat larut malam, semua sudah terlelap, kita sering menyesali, ketika siang tadi tanpa sengaja lisan ini berteriak keras memarahi anak-anak kita. Namun, saat melihat anak kecil kita saat dia tertidur, kita berurai air mata lalu sungguh-sungguh menyesali “Maafkan bunda Nak, besok tak akan Bunda ulangi lagi ya”.

Malam ini saya berjanji, tak akan ada lagi nada tinggi. Saya, Akan sabar mendampingi. Apapun tingkah laku mereka, Tetapi, entah kenapa, besoknya suara nada tinggi menghampiri kembali. Melengking di telinga anak-anak, kanan dan kiri.

Ya Robb, Saya emosi.. Hari ini terulang kembali, lagi dan lagi saya berjanji untuk tak akan mengulanginya. Tapi Nyatanya? Hal yang sama terjadi lagi, lagi, dan lagi.

Bukankah, betapa sungguh berat sekali hidup dengan membawa luka hati. Apalagi terjadi berulang-ulang kali?

Ada apa dengan emosi?
Kenapa kita tak bisa lulus untuk mengendalikan Emosi?

Seperti seorang pendaki gunung yang membawa kerikil, satu demi satu kerikil dia temui di setiap terjal perjalanannya. Semakin lama, Tas ranselnya penuh terisi kerikil tadi. Apa yang akan terjadi? Tentulah susah sekali untuk bisa melanjutkan perjalanan. Apalagi saat dia melompat di tanjakan dengan ransel penuh kerikil tersebut? Terjatuhlah ia lalu tersungkur.

Lantas, seperti apa cara pendaki tersebut melanjutkan perjalanan? Tentu dengan membuang Kerikilnya !

Ya, begitulah luka yang hinggap dalam hidup kita. Kita merasa sangat Berat hingga membuat rasa sesak di dada. Kita serasa tak bisa bernafas dan tanpa kita sadari, sesak itu seringkali terjadi di dalam diri.

Untuk itu, maafkanlah, Ikhlaskanlah dan  lupakanlah. Belajarlah memaafkan agar hati kita terasa lapang, Belajarlah memaafkan agar bayangan masa lalu tak selalu menjadi pengahalang imipian dan masa depan kita.

Maafkan apa yang sudah terjadi kemarin dan hari ini, Kemudian Syukuri Apa yang telah berhasil kami capai saat ini.

Malang, 23 September 2020/22.50 Wib
#ODOP
#ODOPDAY17
#ONEDAYONEPOST

Tentang Diriku

Nama lengkapku Chasanatul Abniyah. Orang-orang biasa memanggilku dengan sebutan Sasha. Akrab juga dipanggil Bunda Asyraf. Aku terlahir 27 tahun lalu, tepatnya tanggal 05 April 1993 di salah satu kota yang terkenal dengan sebutan kota Bunga, Malang.

Aku merupakan anak pertama dari Tiga bersaudara. Buah hati dari pasangan Bapak Ali Khoiri dan Ibu Tuni, Sebenarnya nama ibuku adalah Nurul Azizah, karena saat kecil dulu ibu pernah sakit dan tak kunjung sembuh, Akhirnya atas kepercayaan orang-orang terdahulu, Nama Ibuku diganti dengan Nama Tuni. Aku dilahirkan di keluarga besar yang penuh dengan kesederhanaan. Bapakku adalah seorang Petani juga pedagang yang kesehariannya berdagang keliling menjajakan Tape singkong. Sedangkan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga. Aku beruntung kedua orang tuaku adalah seorang pengajar Ngaji, seminggu dua kali, beliau mengajar sekolah Diniyah di pondok pesantren dekat rumahku. Setiap hari selepas Maghrib kedua orangtuaku juga mengajari anak-anak tetangga dekat rumah untuk mengaji Al-Qur’an di mushollah sebelah rumah kami. 
Kami sekeluarga tinggal di sebuah desa kecil yang banyak orang mengenal dengan Sentra Tape, karena hampir keseluruhan warganya berdagang Tape, Orang mengenal dengan Desa Banjarsari yang berada di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.

Aku beruntung sekali bapakku tegas saat mendidik agama kepadaku dan adik-adikku, Terlebih urusan Sholat, saat Aku asik main dengan teman-teman dikampung ku, beliau akan mencariku dan memaksa untuk pulang ke rumah hanya untuk melakukan Sholat. Beliau akan menghukum dengan tidak boleh main lagi, jika aku membantah dan meninggalkan sholat. Sampai sekarangpun saat aku berkunjung dan menginap di rumah orangtuaku, Bapak akan selalu memanggil dengan keras jika saya masih tertidur saat adzan shubuh berkumandang. Sejak kecil, aku diajari oleh keluargaku untuk tumbuh menjadi anak yang rajin beribadah, mandiri, jujur dan sederhana.

Riwayat pendidikanku berawal ketika aku berumur 5 tahun. Aku disekolahkan di SDN Banjarsari 01. Saat SD, aku tergolong anak yang umurnya paling sedikit, Ibuku pernah bercerita kalau dulu aku sudah tak sabar ingin bersekolah, di tahun 1998 orangtuaku berniat hanya menitipkan ku di SDN Banjarsari 01, karena sadar usiaku harusnya masih di Taman kanak-kanak tetapi aku ngotot minta sekolah SD, Ibuku berpesan kepada salah satu ibu guru untuk hanya Menitipkan jika nanti aku belum mampu mengikuti pelajaran sekolah agar aku tetap untuk dikelas Satu saat kenaikan kelas.

Namun waktu itu, diluar dugaan, Karena dirumah Ibu dan Bapakku sudah mengajariku, Prestasi di sekolahku tergolong bagus dan aku mampu mengikuti pelajaran saat itu, Hingga akhirnya aku lulus dengan Peringkat ke-2 ditahun 2004 ketika usiaku masih menginjak 10Th. Saat SD aku juga sering mengikuti lomba membaca Al-qur’an, Sholat berjamaah dan Alhamdulillah selalu mendapatkan juara. Meskipun dulu hadiahnya hanya buku dan alat tulis, tapi aku selalu menunggu saat ada lomba dan Aku selalu ikut.

Setelah lulus SD, Aku melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Mamba’ul Huda. Masa MTS ini adalah masa-masa yang tak pernah terlupakan. Dulu, ketika aku Mts aku selalu senang saat di titipi gorengan atau kue basah tetanggaku yang bernama Mbak Atik untuk di taruh di kantin sekolah. Aku senang karena aku bisa mendapatkan tambahan Uang saku. Padahal saat itu, upah yang ku terima dengan membawakan kue ke kantin sekolah hanya berjumlah 400 Rupiah, terkadang juga aku dikasih 500-600 Rupiah, tetapi  sehari-harinya sebelum ke sekolah aku selalu menyempatkan ke rumah mbak Atik dulu untuk membawakan kue basahnya.

Meskipun sekolah Tsanawiyahku banyak kegiatan, Aku juga mengaji Diniyah di Pondok Pesantren Al-Kautsar, salah satu pondok pesantren dekat rumah tempat Bapak dan ibuku mengajar. Dulu, di Pondok pesantren ini, banyak santri-santri dari berbagai daerah. Antara lain dari Blitar, Kediri, Palembang, Sulawesi, Riau dan banyak daerah lain. Karena rumahku dan pondok sangat dekat, jadi Saat itu aku memilih untuk “Ndodok” (Tidur di pondok dan pulang kerumah saat akan berangkat dan pulang sekolah saja).

Masa-masa di pondok ini juga termasuk masa-masa yang sangat Indah. Meskipun kegiatan di pondok pesantren waktu itu sangat padat, tapi aku menikmati sekali saat itu. Salah satu yang kuingat, di pesantren kegiatan mengaji baru selesai kurang lebih jam 10 malam, setelah itu kami semua wajib beristirahat dan nanti di jam 02.30 dinihari akan ada Akang-akang senior yang membunyikan semacam kentongan dan membangunkan kita dari luar kamar untuk melakukan sholat malam berjamaah. Sebenarnya masih banyak lagi ingatan-ingatan seru nan manis yang terjadi saat aku Nyantri, termasuk saat aku merasa malu-malu kucing saat di jodoh-jodohkan sama salah satu santri putra waktu itu. Aah, tentu akan menghabiskan banyak halaman jika aku menuliskan semuanya. Hehehehe

Hingga akhirnya di tahun 2007 aku melanjutkan ke sekolah kejuruan di SMK Budi Utomo Kepanjen dengan mengambil jurusan Tata busana. Di SMK, aku malah lebih akrab di panggil dengan “Imut” Mungkin karena tubuhku yang mungil ini jadi teman-teman serta beberapa dewan guru memanggilku dengan panggilan itu. Dan bertahan sampai sekarang, teman-teman SMK ku masih memanggilku dengan panggilan itu. Saat SMK dulu, aku selalu aktif mengikuti kegiatan sekolah, Aku juga menjadi Anggota OSIS sebagai ketua sie keagaamaan waktu itu, pun aktif di kegiatan ekstrakurikuler Siaran Radio. Dulu, saat waktu siaran rasanya senang sekali karena aku merasa banyak yang menunggu dan mendengarkan suaraku. Hehehehe

Saat SMK dulu, karena satu-satunya motor dirumah hanya satu, jadi caraku berangkat sekolah ya diantarkan sama Bapak. Berangkat bareng bapak jualan Tape nya. Saat itu aku duduk di tengah-tengah Bapak dan Keranjang tapenya. Begitu juga ketika pulang, bapakku menjemputku sepulang jualan dan lagi-lagi aku duduk di antara Bapak dan Keranjang Tapenya, tak jarang juga aku dijemput setelah bapak ngerumput dan membawa hasil rumputnya yang akan dijadikan makanan sapi di rumah. Aku, tentu saja duduk diatas rumput itu dan aku senang karena bisa sesekali melepas kedua tangan dan dada-dada sama teman-teman sekolahku dulu. Tak ada malu ketika itu, karena Bapak selalu berpesan, masih banyak yang lebih berada di tingkat keberuntungan dibawahku, jadi untukku bisa seperti ini sudah harusnya menjadi hal yang patut di syukuri. Ah, sayang sekali aku gak punya foto saat itu. Jika ada pasti akan menjadi kenangan terindahku.


Di tahun 2010, Aku berhasil lulus SMK dan aku tidak melanjutkan kuliah. Bisa sampai SMK saja sudah Alhamdulillah sekali, hingga Akhirnya setahun setelah Aku lulus, Aku menikah dengan suamiku. Hanya butuh waktu 3bulan, dari saat Orangtua suamiku kerumah, kemudian melakukan Lamaran dan akhirnya menentukan untuk tanggal kita menikah. Bapakku adalah tipe yang menganut faham “Lebih cepat lebih baik, daripada nanti lama-lama akan menimbulkan banyak fitnah” itulah kenapa prosesnya cepat sekali, padahal saat itu aku belum sepenuhnya mengenali suamiku.

Saat itu, 06 November 2011 bertepatan dengan hari raya Idul Adha, aku dan suamiku resmi menjadi suami istri. Saat menikah bisa dibilang aku menikah muda, karena waktu itu usiaku baru masuk 18Tahun dan suamiku 22Tahun. Hingga akhirnya di Juli 2012 ketika pernikahanku masuk 8bulan, aku berhasil positif dan mengandung anak pertamaku yang lahir di tanggal 14 Maret 2013 yang kami beri nama Asyraf Rayyan Zikrie. Lagi-lagi, banyak proses yang ku lalui dalam hidup hingga Akhirnya 07 Juli 2018 lahirlah putra keduaku bernama Muhammad Ahsan Tsani Abdillah. Kemarin, di tanggal 15 bulan Mei tahun ini, lahir pula putri pertama kami, anak ketiga yang kami beri nama Aisyah Safwana Ramadhani Almahyra. Semoga anak-anak kami senantiasa menjadi putra dan putri yang sholih-sholihah, yang selalu menjadi penyejuk mata dan hati kami.

Cerita mengenai hobi, Sejak di sekolah dasar, Aku sudah sangat menyukai dunia menulis. Menulis apa saja termasuk diary yang ada gemboknya di masa itu sampai tak cukup untuk menampung tulisan recehku. Berlanjut saat sudah berkeluarga ini, Aku adalah type yang detail dalam mencatat keuangan keluargaku, dan aku akan mengomel saat suamiku yang terkadang lupa mencatat jumlah pengeluaran kami.

Menulis benar-benar aku tekuni di tahun 2017, Saat itu karena seringnya aku menulis Caption di instagram ataupun Facebook hingga akhirnya aku ditawari pekerjaan sebagai conten publisher dan copy writer di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang properti sampai saat ini. Inilah awal mula aku mencintai dunia menulis, dan sudah pasti bangga karena hobiku menulis ternyata bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Dalam menjalani hidup, aku mempunyai motto yaitu awali dengan Bismillah dan akhiri dengan Alhamdulillah. Motto hidup ini bermakna bahwa segala sesuatu yang dilakukan atas dasar ibadah atau mencari ridho Allah. Oleh karena itu, aku selalu menyikapi segala sesuatu dengan rasa syukur dan pantang menyerah. Semua akan terasa indah apabila kita merasa ikhlas dengan apa yang kita kerjakan.

Banyak yang bilang Aku ibu cekatan, melihat pekerjaanku dengan Tiga anak, membersamai mereka dan mengurus rumah tangga. Yang masih disibukkan dengan pekerjaan frelancer, dan sehari-hari akupun menyambi dengan jualan online.

Saat aku berhasil masuk di komunitas One Day One Post ini, aku lebih semangat lagi meluangkan waktuku untuk menulis. Terlebih selalu ada tantangan di setiap pekan yang sudah pasti akan membuat deg-degan dan mangasah kemampuan bahasa dalam gaya kepenulisanku. Seperti yang aku tulis ini, Tugas di pekan ke Tiga tentang membuat Autobiografi. Dan aku mencoba menuliskan dalam bentuk Artikel.

Sebenarnya selama 27Tahun ini, banyak sekali cerita seru nan indah juga pahit yang sudah ku lalui, menemani lika-liku kehidupan keluargaku. Lain waktu, semoga aku masih memiliki kesempatan untuk menceritakannya. Harapanku, semoga apa yang aku tuliskan bisa memberi setitik manfaat untuk siapapun yang membacanya.

Malang, 22 September 2020

#ODOP
#OneDayOnePost
#ODOPChallenge3
#OdopDay16

Tentang Seorang Pahlawan

Lelahmu, Tak kau rasakan
Sakitmu, Selalu  ingin kau sembunyikan
Semuanya tersembunyi
Untuk senantiasa membahagiakan kami

Tetesan keringatmu adalah bukti
Tanggung jawabmu untuk menafkahi kami
Melakukan kewajiban yang harus dipenuhi
Dikala mampu tuk menjalani

Semoga kan tetap seperti ini
Menjadi penguat di keluarga ini
Selalu bersama dalam suka duka
Menjalani hidup apa adanya

Semoga kejujuran selalu bersemi
Mekar bertaburan di dalam hati
Kesetiaan yang kan terus berbunga
Akan selalu menyegarkan gairah cinta kita

Hidup bahagia menjadi tujuan kita
Dalam hangatnya dukungan kasih sayang yang mesra
Meski terkadang kita tak dekat Tetap percaya, Jujur dan setia selalu melekat

Kamu, Pahlawan kami Menjadi Pelindung istri dan anak-anakmu
Untukmu, Do’aku tak kan pernah terhenti
Kesetiaanku kan selalu untukmu

#ODOP #OneDayOnePost #Odop2020 #OdopBatch8 #OdopDay15

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai